Salam


Minggu, 11 Maret 2012

Just For Remaind....... (Jangan tersinggung yaaa....)


Oh… Akhwat
Wanita anggun pembasmi maksiat
Busananya rapi menutup aurat
Paling anti pake pakaian ketat
Katanya sich, ini salah satu ciri muslimah yang taat

Oh… Akhwat
Rajin mengaji dan tahajud dimalam yang pekat
Alasannya, biar selamat dunia dan akhirat
Ngga lupa dia doa dan munajat
Agar mendapat teman sejati dalam waktu cepat

Oh… Akhwat
Aktivitasnya begitu padat
Kuliah, organisasi sampe-sampe sehari 3 x ngikutin rapat
Ada juga yang ngajar TPA dan ngajar privat
Demi Allah, semua dilakukan dengan semangat

Oh… Akhwat
Tapi hari ini kok seperti kurang sehat?
Badan lesu dan muka keliatan pucat
Jalannya lunglai dibawah terikan matahari yang menyengat
Ooo.. ternyata dia, magh nya lagi kumat
(Abis… waktu sarapan cuma makan sepotong kue donat!)

Oh… Akhwat
Banyak juga yang berjerawat
Dari yang kecil-kecil sampe yang segede tomat
Padahal sudah nyobain semua sabun dan juga obat
( Sabar… sering wudhu lama2 juga ilang, Wat!)

Oh… Akhwat
Sering betul kirim SMS buat para sahabat
Isinya kalo ngga ngundang syuro, ya.. ngasih tausiyah atau nasihat
Walau kadang terasa bikin pulsa ngga’ bisa hemat

Oh… Akhwat
Seneng banget kalo makan coklat
Nggak sadar kalo gigi udah pada berkarat
Gara-gara sebulan sekali baru disikat
(Hiii… jorok nian kau, Wat!)

Oh… Akhwat
Paling seru waktu kumpul sesama akhwat
Ngobrolin dakwah sampe hal-hal yang kadang kurang manfaat
Apalagi kalau sudah pada saling curhat
Bisa-bisa air mata mengalir begitu lebat
( Wiih, curhat apaan tuh, Wat!)

Oh… Akhwat
Paling berani kalo di ajak debat
Siap bertahan sampe lawan bicaranya mulai sekarat
1 jam.. 2 jam.. 3 jam.. Wuiih dia masih kuat..!
4 jam….? Woy berenti…! waktunya sudah masuk sholat..!!

Oh… Akhwat
Sore-sore makan soto babat
Makannya rame-rame bareng temen satu liqo’at
Maklum, hari itu ada yang baru punya hajat
Baru wisuda… walaupun wisudanya bareng adek2 tingkat

Oh… Akhwat
Nonton konser Izzis sambil lompat-lompat
Tak terasa badan mulai capek dan mulai berkeringat
Sampai nggak sadar kalo ada copet yang mulai mendekat
( Tenang…. Si Ukhti kan sudah belajar silat..!!)

Akhwat… Akhwat…
Pergi kuliah di hari Jumat
Buru-buru karena takut datangnya telat
Padahal hawa kantuk masih terasa melekat
Gara-gara Facebookkan tengah malem sampe jam 1 lewat
( So.. What gitu Wat ?!)

Oh… Akhwat
Banyak yang nggak mau dimadu, apalagi jadi istri ke empat
( Waduh, kalau yang ini ane nggak berani nerusin, Wat!)

Oh… Akhwat
Mau lebaran bantuin ibu buat ketupat
Hati gembira karena mau ketemu sanak kerabat
Tapi kesel saat ditanya… Lebaran ini masih sendiri, Wat?

Oh… Akhwat
Berharap sang pengeran datang tidak terlambat
Untuk menjemput ke hidup baru yang penuh rahmat
Namun apa daya saat proses ta’aruf jadi tersendat
Gara-gara sang Ikhwan, malah akhirnya ngurungin niat
( Huuu.. reseh banget tuh Ikhwan, Wat!)

Oh… Akhwat
Masih Banyakkah yang seperti Fatimah Binti Muhammad?
Yang memilih pendamping bukan kerena harta, tahta dan martabat
Atau hanya tertarik pada gemerlap dunia yang sesaat
Tapi… Agama dan Akhlak itulah yang ia lihat
Wah.. kalau ada… ane pesen satu Wat!
( Please dong akh, Wat! )

Oh… Akhwat
Hidup memang tak selamanya nikmat
Kadang ringan kadang juga terasa berat
Tapi teruslah Istiqomah kau di setiap saat
Karena engkaulah…. Bidadari Harapan Ummat!

Maap ya.. Wat!
Kalau ada kata-kata salah yang didapat
Maklum, yang buat bukannya Akhwat
Udah dulu ya.. yang buat matanya udah 5 Watt!

HIDUP AKHWAT!!!


(dikutip dari ust. Fathur Rahman)

Sepenggal Kisah




Siang itu setelah pergi ke rumah teman untuk mengikuti acara walimatul’ursy, aku bersama teman-teman akhwat pergi  untuk menjenguk teman yang sakit. Sudah beberapa minggu memang teman kami sakit dan di rawat di sana.

Siang itu matahari tak menampakan sinarnya. Hujan turun perlahan membasahi kendaraan kami. Kami basah, segera melaju kendaraan kami dengan cepat agar kami sampai di rumah sakit dengan segera. Ada banyak yang datang sebenarnya, tapi karena hujan turun dengan derasnya, mungkin beberapa dari kami memutuskan untuk berteduh. Sehingga hanya baru ada 6 orang yang sampai di rumah sakit.

Kami masuk ke dalam rumah sakit, yang kami datangi bukan rumah sakit islam, tapi rumah sakit milik orang kristiani. Semua pekerja di sini termasuk yang berjualan di rumah sakit ini di haruskan beragama kristen, di luar islam maka di larang. Dan yang aku herankan adalah kebanyakan orang yang berobat di sini adalah orang muslim.  Mungkin ada beberapa alasan kenapa orang-orang memilih berobat di sini, selain fasilitas di sini lumayan lengkap, jarak antara rumah dengan rumah sakit ini mungkin tidak terlalu jauh sehingga mudah di jangkau, mungkin karena alasan ini juga teman kami memilih di pondokan di sini.

Kami masuk ke dalam ruangan di mana teman kami di rawat. Hanya bisa mengelus dada dan terharu. Teman kami terlihat sangat kurus. Sedih rasanya melihat kondisinya saat itu. Ya ALLOH betapa indah nikmat sehat yang telah Engkau berikan, sabarkan teman kami ini sehingga ia bisa menghadapi penyakitnya dengan lapang. Wajahnya terlihat pucat, tubuhnya kurus. Suaranya terdengar parau. Badannya tidak bisa ia gerakan seperti biasanya. Benar-benar mengharukan.

Kami bercakap-cakap sebentar, mengobrol ini dan itu. Teman kami (dengan pelan) menceritakan beberapa hal kenapa ia bisa masuk di rumah sakit itu. Saat itu katanya ia tak sadarkan diri dan saat sadar ia sudah berada di rumah sakit ini. Tubuhnya di invus dengan dua selang. Satu untuk nutrisi dan satunya lagi untuk apa aku tidak terlalu paham. Ia bilang saat pertama datang ke rumah sakit ini tubuhnya tidak bisa bergerak, tapi alhamdulillah sekarang ia sudah bisa memiringkan badannya. Ya ALLOH sekali lagi, nikmat dariMu lah yang paling besar. Terimakasih atas nikmat-nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami.

Saat asyik mengobrol mataku melihat sekeliling kamar, ada salib tertempel di dinding dan itu tepat menghadap kiblat. Seorang akhwat berkata kepadaku, “Anti kan tinggi, ambil salib itu dan sembunyikan”, katanya. Aku hanya bisa diam dan mengangguk. Perintah itu belum aku laksanakan, aku menunggu waktu yang pas untuk mengambilnya. Perawat masuk ke dalam ruangan untuk mengganti tabung oksigen, kami keluar. Aku berencana mengambilnya setelah perawat itu pergi. Benar, setelah perawat itu pergi aku dan teman akhwat masuk lagi ke dalam ruangan. Pintu sengaja di tutup lalu aku mulai bertindak, aku naik ke sebuah kursi dan mengambil salib tersebut, sementara yang lain berjaga-jaga di dekat pintu. Ada rasa deg-degan saat mengambil salib tersebut karena takut ketahuan, tapi alhamdulillah aku berhasil mengambilnya. Aku segera menyimpannya di laci.

Ingin segera pulang tapi hujan masih turun deras, kami harus menunggu hujannya reda. Kembali seorang akhwat berkata kepadaku, “Nanti salibnya di bawa dan di buang atau terserah mau di apakan, yang penting jangan di letakkan di sini”, katanya. “Terus pake apa di buangnya? Kan kelihatan?”, tanyaku. “Pakai kantong kresek dan taruh di tas terus di buang”, jawabnya. Aku mengangguk-angguk.

Sebelum pulang aku kembali ke ruangan dan mengambil salib di dalam laci, memasukannya ke dalam kantong kresek dan memasukanya lagi ke dalam tas ku. Aku berpamitan dan pergi dengan membawa salib tersebut. Hujan sudah reda. Aku merasa bahwa ini adalah kejadian yang sangat mengesankan. Sesampainya di rumah, aku segera membakar salib tersebut.

Aku tahu bahwa apa yang aku lakukan mungkin di sebagian orang adalah hal yang salah. Tapi bagiku, aku akan merasa sangat sedih dan berdosa jika melihat saudariku harus shalat menghadap ke arah salib. Bagiku, aku sama saja mengetahui hal yang salah tapi tak memperingatkannya. Betapa hinanya aku jika harus membiarkan hal tersebut terjadi.